PERTUMBUHAN  ekonomi cenderung melambat sejak tahun 2012. Jika berdasarkan data triwulanan, tren perlambatan mulai terjadi pada triwulan I-2011 setelah mencapai titik tertinggi 6,8 persen pada triwulan sebelumnya. Namun, kemerosotan pertumbuhan pada triwulan I-2014 merupakan yang terdalam selama lima tahun terakhir.

Perkembangan itu jelas tidak dirancang pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Namun, setelah kecenderungan perlambatan berlangsung hampir tiga tahun, tiba-tiba BI mengklaim perlambatan merupakan hasil dari kebijakan yang direncanakan.

Ketika mengumumkan kenaikan BI Rate atau suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin menjadi 7,5 persen pada 12 November 2013, BI menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2013 tidak terlepas dari pengaruh kebijakan stabilisasi yang dilakukan pemerintah dan BI guna membawa pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih sehat dan seimbang. Namun, ternyata pada triwulan berikutnya pertumbuhan ekonomi naik kembali dari 5,6 persen menjadi 5,7 persen.

Dua hari kemudian, pada acara pertemuan tahunan perbankan, Gubernur BI mempertegas sikapnya bahwa ekspansi perekonomian terlalu cepat. Padahal, ketika itu pertumbuhan ekonomi sudah menurun selama lima triwulan berturut-turut. Apakah menurut pandangan BI penurunan pertumbuhan kurang tajam? Lantas, apakah penurunan tajam pada triwulan I-2014 sudah memuaskan, sesuai harapan BI?

Rasanya tidak juga. Karena BI pada awalnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2014 bakal lebih tinggi ketimbang tahun 2013. Dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV-2013 yang dikeluarkan pada 18 Februari 2014, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 6 persen, lebih tinggi dari tahun 2013 sebesar 5,8 persen.

Sebulan kemudian BI merevisi pertumbuhan ekonomi ke bawah menjadi 5,7 persen. Setelah Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2014 hanya 5,2 persen, BI kembali merevisi pertumbuhan ekonomi tahun 2014 menjadi 5,3 persen.

Apakah langgam kebijakan BI dan pemerintah hanya akan mengikuti pertumbuhan ekonomi yang memudar berkelanjutan, yang sebetulnya merupakan akibat dari tindakan BI dan pemerintah sebelumnya? Ketika pertumbuhan ekonomi sedang dan terus melambat, dan pertumbuhan investasi turun terus-menerus selama enam triwulan berturut-turut hingga titik terendah sebesar 4,4 persen pada triwulan IV-2013, BI justru nyata-nyata bertekad menekan laju pertumbuhan kredit dari 21,6 persen tahun 2013 menjadi hanya 15 persen-17 persen saja pada tahun 2014.

Karena itukah BI Rate tidak kunjung diturunkan walaupun BI optimistis target inflasi 4,5 (±1) persen tahun ini bakal tercapai? Atau, BI tetap mempertahankan BI Rate untuk tujuan memperbaiki defisit akun lancar/transaksi berjalan (current account) sebagaimana dinyatakan ketika terakhir menaikkan BI Rate pada bulan November tahun lalu?

Bukan cara jitu

Kebijakan bunga tinggi bukan cara jitu mengurangi defisit akun lancar. Kenaikan suku bunga riil justru dilakukan untuk merangsang aliran modal masuk agar dapat menutupi defisit akun lancar sehingga neraca pembayaran bisa tetap surplus. Kenyataannya, tanpa menaikkan suku bunga sekalipun, arus modal asing tetap mengalir cukup deras ke Indonesia, baik modal portofolio maupun modal asing langsung.

Dalam hal ini tampaknya BI dan pemerintah keliru mendiagnosis keadaan. Pemerintah dan BI terbelenggu oleh kebijakan The Fed. Pada acara Bankers Dinner 14 November 2013, Gubernur BI mengatakan, ”… Kami bergabung dengan Bank Indonesia pada 24 Mei 2013, tepat dua hari setelah Chairman dari Federal Reserve memberikan sinyalemen akan mengurangi stimulus moneter (tapering). Sinyalemen yang singkat, tetapi pengaruhnya mendunia. Sejak saat itu, hari demi hari hingga akhir Agustus lalu, ekonomi kita ditandai dengan derasnya aliran keluar modal portofolio asing, yang kemudian menekan nilai tukar rupiah dengan cukup tajam….”

Menteri Keuangan juga menyampaikan keprihatinan senada: ”Indonesia’s rupiah and bond yields will return to levels seen in 2009 after the Federal Reserve cuts stimulus that has buoyed emerging-market assets, Finance Minister Chatib Basri said.” (Bloomberg.com, ”Indonesia’s Basri Sees Rupiah Back to 2009 Levels After QE Taper” http://bloom.bg/1cHKkKO, 8 November 2013)

Data menunjukkan aliran modal portofolio asing neto selalu positif sejak tahun 2008, kecuali sekali pada triwulan III-2011. Sejarah panjang perekonomian Indonesia pun menunjukkan kemerosotan pertumbuhan ekonomi hampir selalu dipicu oleh faktor internal.

Kalaupun berasal dari guncangan eksternal, yang terhantam adalah sektor ekspor, bukan sektor finansial. Bukan karena perekonomian kita tahan guncangan eksternal, melainkan karena sektor keuangan kita masih cetek dan belum terintegrasi penuh dengan pasar keuangan global. Karena itulah kita selamat dari krisis finansial global tahun 2008. Selain, tentunya, karena BI dan pemerintah sigap menangani skandal Bank Century sehingga tidak sempat menimbulkan krisis perbankan.

Pemerintah dan BI telah menyia-nyiakan momentum pertumbuhan ekonomi. Berubahlah. Jangan pertumbuhan ekonomi yang dijadikan kambing hitam.

Faisal Basri
Pengamat Ekonomi